Selasa, 21 Oktober 2014

WIRAUSAHA

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.  Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Menurut Richard Cantillon (1775) mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenadengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang. Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:
1.       Tahap memulai
Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.
2.       Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
3.       Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
4.       Tahap mengembangkan usaha
Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Setiap wirausahawan tentu memiliki sikap seorang wirausaha. Identifikasi sikap seorang wirausahawan yang dapat diangkat dari kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:
a.       Disiplin
Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja dan sebagainya. Ketepatan terhadap waktu, dapat dibina dalam diri seseorang dengan berusaha menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sifat sering menunda pekerjaan dengan berbagai macam alasan, adalah kendala yang dapat menghambat seorang wirausahawan meraih keberhasilan. Kedisiplinan terhadap komitmen akan kualitas pekerjaan dapat dibina dengan ketaatan wirausahawan akan komitmen tersebut. Wirausahawan harus taat azas. Hal tersebut akan dapat tercapai jika wirausahawan memiliki kedisiplinan yang tinggi terhadap sistem kerja yang telah ditetapkan. Ketaatan wirausahawan akan kesepakatan-kesepakatan yang dibuatnya adalah contoh dari kedisiplinan akan kualitas pekerjaan dan sistem kerja.
b.       Komitmen Tinggi
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan). Komitmen terhadap dirinya sendiri dapat dibuat dengan identifikasi cita-cita, harapan dan target-target yang direncanakan dalam hidupnya. Sedangkan contoh komitmen wirausahawan terhadap orang lain terutama konsumennya adalah pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan konsumen, kualitas produk yang sesuai dengan harga produk yang ditawarkan, penyelesaian bagi masalah konsumen, dan sebagainya. Seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya terhadapkonsumen, akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya wirausahawan tersebut akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen, dengan dampak pembelian terus meningkat sehingga pada akhirnya tercapai target perusahaan yaitu memperoleh laba yang diharapkan.
c.        Jujur
Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks. Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan, kejujuran mengenai promosi yang dilakukan, kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang dijanjikan dan kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan olehwirausahawan.
d.       Kreatif dan Inovatif
Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar. Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru seringkali ide-ide jenius yangmemberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.
e.       Mandiri
Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalammengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Pada prinsipnya seorang wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.
f.        Realistis
Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya. Banyak seorang calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena wirausahawan tersebut tidak realistis, obyektif dan rasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya. Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan/ sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.

Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran. Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:
a.Menciptakan lapangan kerja
b.Mengurangi pengangguran
c.Meningkatkan pendapatan masyarakat
d.Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
e.Meningkatkan produktivitas nasional.

PENJUAL LAUK PAUK DAN SAYUR MAYUR



            Penjual lauk pauk dan sayur ini merupakan pedangan dari pasangan suami istri didaerah perumahan bumi Teluk Jambe Karawang. Bapak yang bernama Kasiman dan Ibu Tuti Pertiwi berasal dari daerah Ciamis. Mereka berdua tinggal di kecamatan Teluk Jambe Barat yaitu tepatnya di desa Pangkalan. Ibu Tuti ini memilih berjualan membantu sang suami demi menyekolahkan anak bungsunya dan untuk membantu biaya hidup. Sang suami, Bapak Kasiman ini dahulunya merupakan seorang karyawan perusahaan di kawasan yang berada diKarawang. Menurut beliau, bekerja menjadi kuli lebih melelahkan dibandingkan berjualan lauk pauk dan sayur mayur ini. Menjadi kuli baginya membutuhkan waktu lebih lama, dahulu Pak Kasiman ini melakukan pekerjaan selama 12 jam dan itu belum dengan lembur. Sedangkan berjualan lauk pauk dan sayur mayur hanya membutuhkan waktu 4 jam sehari, itupun sudah dengan belanja. Waktu berjualan dimulai dari pukul 05.00 hingga pukul 08.00 dan terkadang pukul 06.30 pun telah habis.
            Bapak Kasiman dan Ibu Tuti Pertiwi sudah melakukan aktivitas ini selama 20 Tahun. Awal berjualan memang terasa amat melelahkan. Keluh kesah sang suami sering dilontarkan kepada istrinya, namun semakin lama berjualan yaa semakin tidak terasa terutama waktu istirahat lebih lama dibandingkan waktu berjualan. Sang istri pun memilih untuk membantu suami karena terkadang suami kewalahan dengan banyaknya pembeli apalagi hari libur. Suami sering bercerita bahwa sering sekali daging atau sayuran yang dijualnya hilang sehingga keuntungan yang diperhitungkan berbeda dengan hasil yang didapatkan. Itu juga yang menjadi alasan sang istri untuk membantu sang suami, untuk mengantisipasi pencurian ataupun ketidak jujuran ibu-ibu yang berbelanja lauk pauk dan sayur mayur kepada suaminya.
            Tempat berjualan lauk pauk dan sayur mayur yang dilakukan hanya di perumahasan bumi Teluk Jambe, tepatnya diblok M. Menurutnya hanya diblok ini saja yang pesaingnya tidak terlalu banyak dan hanya ditempat ini juga lauk pauk dan sayur mayur dijualnya selalu habis, mungkin karena hanya ada dua atau tiga pedagang yang berjualan sepertinya. Lauk pauk dan sayur mayur yang dijual oleh pasangan suami istri ini lengkap. Semua bahan dari bumbu, sayuran dan lauk pauk seperti ikan, ayam, daging sapi dan lainnya ada disini.

CITA-CITA TAK TERCAPAI? TETAP AKAN ADA YANG TERBAIK DARI SEBUAH USAHA


Cita-cita? Tentu ini kata yang tidak akan asing didengar oleh seluruh kalangan. Cita cita merupakan sebuah impian, mimpi, harapan dan tentunya ingin terwujud dimasa depan ataupun masa yang akan datang. Cita-cita ini menjadi tolak ukur, tujuan kita, pencapaian yang harus diraih. Namun, apa yang akan terjadi apabila sebuah cita-cita itu tidak tercapai? Kekecewaan, kegilaan atau bahkan banyak hal gila lainnya itu membuat kita frustasi. Sesungguhnya cita-cita memang sebuah impian yang tentu ingin terwujud namun sering kali tidak terwujud karena banyaknya hal yang membuatnya terhenti.
            Cita-cita indah, seperti ingin menjadi seorang dokter, atau menjadi seorang polisi, atau menjadi seorang pengacara. Itu semua memang sebuah cita-cita yang paling sering disebutkan oleh anak-anak kecil dikala bangku sekolah dasar. Apakah itu semua tercapai oleh sang anak yang memiliki cita-cita itu? Mungkin, ataupun bahkan tidak.
            Cita-cita tentu dicapai dengan segala usaha dan jalannya masing-masing, namun bila itu tidak dapat terwujud sesungguhnya itu adalah motivasi yang dulu menjadi tujuan kita dan kini ada jalan lain yang harus kita jalani dan syukuri. “Ada yang Terbaik Dari Setiap Yang Kita Dapat Meskipun Itu Bukan Cita-cita Yang Kita Rencanakan Dan Di Balik Itu Semua Adalah Jalan Yang Indah Dan Juga Perlu Kita Syukuri”. Tentu akan ada cerita, pengalaman dan pembelajaran dari setiap perjalanan, apalagi yang kita capai lebih indah dari yang kita impikan. Banyak cita-cita yang kita tak tahu, mengapa cita-cita seperti menjadi Dokter, Polisi, Guru selalu menjadi cita-cita umum? Ini karena seorang anak yang memiliki cita-cita ini selalu melihat ataupun bertemu seorang Dokter, Polisi dan Guru. Sesungguhnya banyak pencapaian yang bisa kita capai selain itu, namun kembali tujuan setiap anak tentu akan berbeda.
            Percayalah, Tak semua cita-cita yang belum kita wujudkan memutuskan usaha kita untuk sukses. Namun kita pun bisa sukses tanpa mewujudkan cita-cita karena sukses bukan dari sebuah cita-cita yang terwujud saja tetapi sukses adalah semua hal yang bisa kita miliki dan membuat kita nyaman bahkan bahagia merupakan sebuah kesuksesan kita. Berdiri sendiri merupakan kesuksesan kita dengan berdiri tanpa bantuan orang. Tetap semangat mencapai kesuksesan.